Works & Toughts
Pengingat

Saya tumbuh besar dengan pertanyaan “Kamu baik-baik saja?” dari Ibunda dan “Sudah shalat?” dari Ayahanda. Bekal terdahsyat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya, dan agar selalu mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya.



12. Tonight.









This is painful.



A must read!



Semacam WIP

Semacam WIP



His, Her, Their, Your, Our, Mine

What is your biggest pain?

As for me, it is seeing my good friend doing wrong things. And somehow I’m feeling trapped between two things: trying not to care because it is their right to do so, or just take some distance and leave them because you know they are just bad.

Even deeper, I really am confused. Somehow I realize of as going mature, people should not get their hands on other’s business.

But really I can’t help myself, it is such a pain knowing myself done nothing as things gone wrong.

So far, the best thing I could do is just leave. Making some distances.

But still, a wound is a wound. You may made another wound to distract the pain, but the wound will always there unless you heal it.

I have to go. Away from here.



"Ih, jangan dilepas!"

image

Gambar dari sini.

Kamu baru aja beli barang, katakanlah laptop baru, kecuali untuk beberapa merek, tentu saja ada protector film atau plastik yang menempel di badan laptop. Lalu kamu biarkan tidak dicabut dengan alasan biar laptopnya awet, biar tetep keliatan baru, ataupun biar kalo dijual lagi harganya tinggi.

Well, saya harus bilang, saya nggak suka jalan pikiran kamu.

Bukan benci ya, gak suka doang. Bisa jadi ini cuma masalah preferensi. Kenapa?

1. Laptop kamu nggak didesain untuk tetep ditempelin plastik.

Plastik itu didesain buat melindungi produk ketika dalam packaging, bukan ketika digunakan. Kalo kamu berpikir untuk beli barang dan merasa plastik packaging itu bagian dari produk untuk digunakan, buat saya itu sama kayak kamu makan pisang tanpa dikupas. Nggak enak.

2. Kamu keliatan nggak telaten.

Alih-alih keliatan sebagai orang yang care terhadap barang-barang kepunyaan dengan nggak mencabut si plastik, buat saya kamu malah keliatan sebagai orang yang nggak apik dalam merawat barang. Kamu ngasih perlindungan ekstra yang bukan perlindungan ke barang-barang kamu. Kalo kamu memang orang yang bisa ngerawat barang, kamu nggak perlu tetep nempelin begituan di barang baru.

3. Jelek.

Banget. Ini alasan paling krusial. Buat saya kamu kayak nggak menghargai si desainer produk tersebut. Kamu merusak visual dan keindahan produk. Ngedesain produk itu susah loh, perlu riset dan lain sebagainya. Desainer udah berusaha buat bikin si produk supaya bagus digunakan sama kamu dan kamu membiarkan sesuatu yang bukan tempatnya. Ya terserah sih, kamu yang punya barang, cuma rasanya sayang aja gitu ada plastik yang nggak bagus nempel. Apalagi kalo udah ada debu-debu gitu yg nempel di bagian plastik yang kekupasnya.

4. Kamu keliatan seperti orang yang nggak berpola pikir panjang.

Loh kok gitu? Justru karena saya berpikir jauh ke depan makanya plastiknya nggak saya lepas, jadi kalau saya perlu upgrade ke laptop yang lebih bagus, laptop ini tetep bisa saya jual dengan harga tinggi!”

Ya, benar. Tapi dengan kata lain kamu salah beli produk. Lain kali, mungkin kamu bisa beli produk yang memang cocok dengan pola kerja kamu, jadi kamu ga perlu gonta-ganti barang. Gak sustainable soalnya.

"Gimana kalo kepentok budget? Jadi beli yang seadanya dulu gitu?"

Well, silahkan, tapi buat saya lebih baik kamu pake sesuatu yang memang didesain untuk itu. Misalnya pake laminasi di laptop. Atau beli laptop sleeve, jadi tiap abis pake laptop masukin ke situ supaya si laptop gak lecet-lecet. Karena si laminasi dan sleeve itu memang didesain untuk proteksi ke barang.

Kurang lebih begitu.

Saya ngerti kenapa banyak sekali orang yang nggak mau nyopot si plastik. Yang saya nggak ngerti adalah kok bisa mereka membiarkan produk yang udah mahal-mahal mereka beli tapi nggak bisa mereka nikmati secara penuh.

To be noticed:Tentu saja hal-hal seperti screen protector adalah pengecualian, karena memang tujuannya untuk proteksi lebih ke produk. Yang termasuk dalam konteks ini misalnya plastik di jok mobil, stiker di topi, protective film di helm, yah yang begitulah pokoknya, you tell me.

Kalo kamu masih termasuk orang yang membiarkan si plastik nempel karena suatu alasan, please stop. You are making a limit of your very own thing, and you are ruining someone’s design for sure.



Midlife Crisis

You might have passed the phase, you might not. But here I am, at my 21, facing the rush of blood and voices in head.

There are things that I could do. But focusing is the thing. And all that I have are just blurry images. At some point, all that you want is just one beautiful thing, and at another point, you realize that there’s too much unnecessary beautiful things you have in your room.

Focus.

That’s the thing.



Another Post About Minimalism

Just found this interesting article here:

http://www.thedieline.com/blog/2011/11/10/a-study-in-brand-minimalism.html?utm_content=buffer9bbd4&utm_medium=social&utm_source=twitter.com&utm_campaign=buffer

Go ahead. Read it.

Secara sederhana, I don’t think it’s right. Neither good.

Well, it might me good-looking, slightly. But good in many aspect? I don’t think so.

Pertama, saya punya anggapan penerapan minimalisme pada produk punya sisi berbahaya (dan krusial): hilangnya identitas. Contoh jelas bisa dilihat pada gambar-gambar di artikel tersebut. Tiap desain yang ‘terminimalisasikan’ menjadi ‘yaudah gitu aja’. Lihat suatu produk yang berdesain ribet dan kita bisa dengan mudah ngebayangin gimana kalo produk itu dibikin versi minimalisnya kayak di artikel itu. Ya, semudah itu.

Bagus? Bisa jadi.

Lalu, instead of having minimalized branding, saya sendiri prefer untuk pakai teorinya Andrew Kim (salah satu desainer muda favorit saya) disini http://www.minimallyminimal.com/blog/2012/1/24/coffee-time-the-problem-with-logos.html.

Walaupun beda konteks sedikit, tapi kurang lebih konteksnya mengarah ke hal yang sama: minimalisasi desain, maksimalisasi produk.

Bedanya, penekanan Andrew Kim ada pada bahwa visual produk (termasuk kemasan) tidak perlu berlebihan. Desain harus tetap punya identitas walaupun visualnya -secara kasar- sepi. Sementara pada artikel di link pertama saya lebih menangkap pesan bahwa ‘betapa indahnya kalau produk-produk ini punya desain kemasan yang minimalis’.

Lalu apakah desain di artikel link pertama itu buruk? No. Itu bagus bro. Di artikel itu, kerasa sekali kalo si desainer berusaha merangsang kreatifitas desainer lain dengan mempublikasikan pemikiran dia di minimalisme kemasan. That’s why artikelnya berjudul “A Study..”. It’s really a study: dia memberi materi, orang boleh menginterpretasikan sesuai design faith masing-masing. Termasuk seperti yang saya lakukan sekarang.

Ah, minimalisme.

Saya masih harus banyak belajar.

PS: Gambar diatas itu produknya Naoto Fukasawa, gambar dari blognya Andrew Kim.





Minimalis

"Jadi, saya menawarkan desain minimalis…"

Kita ingin desain kita nggak banyak cingcong, straight to the point, fungsi dan dasar-dasar user activity enhancement jadi fokus di desain, sehingga nggak banyak aksesori pada interior yang kita buat. Lalu kita presentasi di depan klien, "konsepnya minimalis, pak."

Di kesempatan lain, teman kita membuat desain dengan gubahan ruang dengan basis bentuk dasar geometris. Persegi, lingkaran, segitiga, tanpa turunannya yang rumit, lalu ia presentasi di depan klien, “konsepnya minimalis, bu.”

Lagi, adik kelas kita mengerjakan tugas merancang interior tokonya, ia membuat ruangan dengan dominasi warna putih. Ceiling gypsum board putih, treatment dinding water-based paint putih, lantai parquet dengan tone ala soft-light maple wood, kursi-lemari-kusen dengan warna putih, hingga pada puncaknya ia tempatkan sebuah meja warna merah di tengah ruangan sebagai vocal point. “Warna putih yang pure ini lalu diberi aksen meja merah, karenanya ruangan ini konsepnya minimalis,” begitu katanya ketika dosen meminta dia untuk ngejelasin desainnya.

Mari kembali ke awal: sebenernya minimalisme itu apa?

Minimalism is a term referring to styles of visual art and music displaying pared-down design elements.

Wikipedia bilang begitu.

Tapi di kehidupan nyata, si definisi wikiped ini rasanya jadi kurang berlaku. Akhirnya yang saya tangkep adalah banyak hal bisa disebut minimalis. Penggunaannya terlalu luas, sampai akhirnya saya nyampe di titik dimana saya berkesimpulan untuk lebih baik nggak make kata minimalis.

Sampai sayangnya, saya merasa kata ini seringkali overused karena jadi pelarian bagi para desainer yang tidak punya cukup waktu untuk menemukan kata yang tepat bagi desain mereka, padahal desain mereka matang. Itu sayang banget. Rasanya kayak jualan kopi luwak tapi dibungkusnya pake kemasan kapal api.

Lebih horor lagi kalo ketika kamu sedang dikejar deadline dan cuma sempet bikin desain seadanya lalu kamu bilang itu minimalis. Ya tinggal dibalik aja, itu kayak jual kopi robusta kualitas rendah campur biji jagung tapi di kemasannya ditulis kopi luwak. Rasanya pasti abal, tapi itu jalan pintas yang oke supaya produk bisa laku mahal di pasar.

Pada akhirnya, saya pikir rasanya unnecessary untuk menamai desain kita pake kata ini-itu. Sebab pada akhirnya, desain kita bakal dibangun, bakal dipakai, bakal berinteraksi dengan manusia pengguna. Jadi tanpa disadari, tubuh si penggunalah yang akan mendefinisikan desain kita, bukan kata-kata mutiara ke klien.



Sounds of The Month: Low Saturation January

Hola hombre. Happy New Year.

Di 2012-2013, beberapa kali saya membuat posting tentang musik-musik menarik yang saya temukan, baik di jagat internet maupun yang coincidentally nyamper ke hidup saya di dunia nyata. Misalnya kayak yang ini.

Nah, di 2014. Saya mau coba bikin ini ada tiap bulan. Kenapa? Karena seru aja, bagi-bagi gitu. Refresh playlist rame-rame. Semoga nggak ada banyak halangan. Here goes for January, with the theme of low saturation.

1. Daughter

Apa yang bikin saya (dan mungkin juga banyak orang) kecantol sama Daughter untuk pertama kali? Tentu saja vokal miliknya Elena Tonra. Band ini British-based, yang notabene adalah kampung halaman dari banyak band besar.

Vokal empuk-empuk-sorrowy (iya, istilah ngarang sendiri) dan tipikal musik ‘dalem’ yang nyeni banget tapi tetep casually enjoyable buat saya jadi faktor yang bikin band ini juara. Untuk mengenal Daughter, silahkan dengar Youth, hit single mereka yang saya kira cukup mendeskripsikan band ini secara keseluruhan.

2. The Staves

Ingat Haim, trio bersudara yang keren banget itu? Well, bukan cuma mereka sisters trio yang boleh ngehip. Izinkan saya mengenalkan The Staves, yang saya lebih prefer daripada Haim.

The Staves, secara visual dan audial, adalah suatu keseimbangan. Mereka tampil sederhana namun memikat, dengan lagu dan vokal yang juga sederhana namun memikat. Sedikit irama country dan churchy vocal menjadi atmosfir utama yang The Staves tawarkan.

Mexico, In The Long Run, dan Winter Trees dari The Staves menjadi track-track yang saya wajibkan kalian untuk dengarkan.

3. Alt-J

Bukan sesuatu yang baru, karenanya saya yakin banyak yang sudah mengenal Alt-J. Awards untuk album debut mereka berlimpah dan they do really deserve those. No compromise.

Suara-suara yang Alt-J punya adalah karya seni yang sesungguhnya: cara nyanyi yang nyeleneh, chord standar yang dibikin jadi super menarik karena susunannya, juga penggunaan insulation tape sebagai penggati pick gitar untuk bikin efek suara yang cuma Alt-J yang punya.

Taro, Matilda, Breezeblocks, dan Tesselate menjadi lagu-lagu yang saya rekomendasikan untuk mengenal band ini.

4. Anais Mitchell

American Folk. Kurang lebih begitu dua kata yang ada di pikiran saya waktu pertama kali denger Anais Mitchell. Irama yang diulang-ulang tapi tetep catchy karena vokal dan ekspresi wajah yang nakal, bisa jadi adalah hal yang bikin saya fascinated tentang penyanyi ini.

Shepherd dari album Young Man in America adalah pembuka yang pas untuk tiap konser Nona Mitchell. Juga sebagai gerbang ke dunia American Folk.

That’s all folks. Happy January!