Ridh

Bagaimana air yang menetes bisa membuat lubang pada batu? Atau ombak yang lebut bisa membuat tebing tergerus? Atau jika panas ia melarutkan gula dan teh, mungkin kopi, pada gelas kita di atas meja, di samping laptopmu.

Bagaimana angin yang berhembus membuat bukit di gurun berpindah? Atau kincir angin kemudian kita jadikan putarannya sebagai sumber energi, hingga lampu-lampu di kota hidup. Atau jika dingin ia menyejukkan ruangan kantor, mungkin ruang tidur, pada kelelahan kita, tepat di tengkukmu.

Bisa jadi, saya adalah seseorang yang pemalas. Atau moody, atau kalau kamu bisa menemukan bahasa lain yang kamu suka, kamu juga boleh pakai.

Ridh adalah nyata. Ketika mereka tiada, padahal sebelumnya tanda sudah jelas, dan kamu berusaha berkelit, tunggulah kehancurannya.

Karenanya, saya juga harus bersiap.



Whatever, dude, whatever.



I’m tired.



Atau soal pagar yang tak ditumbuhi tanaman.

Apa yang menjadi bebanmu? Bebanku?

Peduli pada bebanmu.

Sepertinya kondisi yang tidak baik malah semakin menjadi-jadi.



“Saya paling nggak mau jadi orang susah.”

 —Mr. Good, dengan penekanan dan mata mengernyit di bagian ‘paling’.



Promising, promising, boring.

Done watching. Just realized how me and him is actually the same. Money isn’t the thing. I need kevlar to stop the bullet, no no, that’s not it. I am a rat. I need to munch the right thing.



Pokka

Why am I writing this?

I don’t know, to celebrate would be a close answer, I guess.

I got myself a new keyboard. Convenience to type on.

Saya sedang KP di Wander. Tempat yang menarik, dengan orang-orang yang menarik juga. Akhir minggu ini selesai dan saya bisa mulai semester baru minggu depan. Pagi ini, mungkin sekitar jam 10 saya harus minta FRS disetujui, lalu bayar kuliah siang harinya. Ah, saya juga masih harus menghubungi Kang Faizal untuk minta maaf.

Setelah selesai dengan Breaking Bad, 2 bulan terakhir ini saya menonton Hannibal dan Sherlock. Keduanya rampung season 1. Serial yang sangat menarik. Dan Indonesia mungkin butuh sepuluh tahun lagi sampai tayangan semacam ini bisa muncul di televisi lokal.

Banyak waktu saya habis di AOTTG pada beberapa bulan ini. Game yang sangat seru, dan cocok untuk saya yang bukan gamer. Kalau kamu mau, kita bisa main sama-sama.

Belakangan, saya merasa bahwa saya berada pada garis ambang dimana masa sekarang dan masa depan bersinggungan. Di satu sisi, menarik sekali rasanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Sementara di sisi lain, menarik juga untuk menahan keinginan dan lebih baik menyimpannya sebagai bekal untuk kemudian hari. Di jalan, kadang otak saya bertempur, saya bergerak bingung, lalu diam karena lupa, lalu bergerak lagi, lalu tidak jadi, lalu lupa lagi. Begitu terus berulang-ulang. Hingga pada akhirnya, saya yang tidak bisa memutuskan menjadi kesal sendiri. Hasil pencarian google bilang, sebaiknya saya tidak terlalu sering begini.



Paths

Choose one. Wisely.

Wisely.



To change is a bullshit.


Surat Terbuka Untuk Para Pendukung Capres Yang Terlalu Fanatik

Kalian berisik.

Salam,
Rifyalka.



darkpathos:

"You either die a hero or live long enough to become a villain." 

(via ruinedchildhood)





Dear diary, or whatever.

Tentu saja, tumblr yang juga kurang lebih blog ini harusnya menjadi tempat curhat sesekali. Atau tempat bercerita. Atau tempat unek-unek semestinya ditumpahkan.

Tapi saya tidak melakukan itu dengan solid. Tumblr saya isi dengan hal-hal semau saya saja. Ngasal.

Karenanya. Postingan kali ini saya dedikasikan untuk format blog klasik: catatan harian.

Kuliah sudah selesai. Banyak teman saya masih bekerja, beberapa mencari pekerjaan, beberapa kebingungan, beberapa liburan, dan beberapa sama seperti saya: magang. Sampai Agustus. Atau September.

Sebagian di Jakarta, sebagian di Bandung, sebagian di Bali, sebagian saya tak tahu lagi.

Laptop saya baru saja sembuh. Dua minggu makan waktu untuk sembuh. Selama itu, Danu yang baik hati meminjamkan saya komputer dia. Terima kasih, bro. Studio dan newsletter selesai juga pakai Rambo.

Saya ketik ini di laptop, dengan keyboard tambahan karena enak sekali mengetik di full-size keyboard. Lagu tulus diputar sebagai background. Saya tidak terlalu suka Tulus, tapi suaranya bagus. Karena ketika dua minggu lalu saya bosan, saya ke Tarra dan secara random beli CD albumnya, Gajah. Saya kagum, tapi tidak terkesima. Saya putar CDnya supaya terpakai saja, sayang sudah dibeli. Oh, lagu Gajah itu memang bagus.

Saya kepikiran beli macam-macam. Tapi budget tentu saja harus dibatasi. Eh, barusan saya keliling internet dan nemu artikel, ada tulisan begini: Don’t spend money on things you don’t need because you won’t have money for the things that you do need. Benar juga kurang lebih. Oke, saya tidak jadi beli macam-macam. Listnya saya buang.

Hari senin saya mulai magang. Di Wander. Tapi Selasa dan Rabu saya tidak masuk. Selasa kesiangan dan Rabu saya tidak enak badan. Tidak enak sekali, beneran. Sampai sekarang. Badan ngilu sampai saya tidak bisa tidur. Makanya tulisan ini hadir dini hari.

Dua tahun yang lalu, seorang teman baik, Miss Zulianti, bilang bahwa dia percaya saya akan jadi ‘seseorang’ di kemudian hari. Tentu saja saya amini. Tapi belakangan, saya tidak merasa begitu. Pesimis? Bisa jadi. Tapi bukan, bukan itu. Saya merasa ada sesuatu yang lebih daripada sekedar rasa pesimis. Saya merasa paham diri sendiri. Segala kekurangan saya, usaha saya untuk memperbaikinya, dan kegagalan saya karenanya dan karena gagal memperbaikinya.

Tentu saja, perasaan ini sungguh buruk. Saya menyadari hal itu. Captain Haddock di Tintin The Movie bilang, orang lain boleh bilang kita (akan) gagal, tapi jangan pernah bilang itu ke diri kita sendiri. Tapi premonition is a premonition. It is so superstitious that Einstein couldn’t even explain.

Teman baik yang lain, Poska, pernah bilang sesuatu tentang quarter life crisis. Saya juga pernah menemukan artikel itu di forum. Barangkali, saya tengah mengalaminya. Saya juga tahu dan sedang berusaha menangkis idea-idea buruk seperti itu menancap di pikiran saya. Saya mengerti. Saya cuma ingin bilang saja.

Saya habis jalan-jalan di Medium. Dan menjadi salah satu pembaca yang sok-sok terinspirasi, padahal di kemudian hari setelah termotivasi, saya tidak akan melakukan apa-apa. Ini terjadi berulang-ulang sampai saya hapal sekali kebiasaan buruk saya. Kadang, kamu boleh benci dirimu sendiri.

Kemarin subuh, saya ke masjid dan shalat berjamaah. Enak sekali. Seperti subuh-subuh lainnya saat saya ke masjid untuk shalat berjamaah juga.

Panjang juga tulisan ini.



Almazian Pop Symphony - Seven Nation Army



Who are you?

My name is Budapest.

I am happy. Along with the grass and sweats. Of breeze that goes through your little fingers. And I’ll be always by your dream. Never the real world.

My name is Kyoto.

I am your reality. Tell me what you’re feeling. You can never see the future, but we did get along well.

My name is Michigan.

I feel mesmerized. You don’t wanna know of what happened to me. But memories lies beyond your will.

My name is Berlin.

I am nowhere. Turn off the lights, and you’ll see.