To change is a bullshit.


Surat Terbuka Untuk Para Pendukung Capres Yang Terlalu Fanatik

Kalian berisik.

Salam,
Rifyalka.



darkpathos:

"You either die a hero or live long enough to become a villain." 

(via ruinedchildhood)





Dear diary, or whatever.

Tentu saja, tumblr yang juga kurang lebih blog ini harusnya menjadi tempat curhat sesekali. Atau tempat bercerita. Atau tempat unek-unek semestinya ditumpahkan.

Tapi saya tidak melakukan itu dengan solid. Tumblr saya isi dengan hal-hal semau saya saja. Ngasal.

Karenanya. Postingan kali ini saya dedikasikan untuk format blog klasik: catatan harian.

Kuliah sudah selesai. Banyak teman saya masih bekerja, beberapa mencari pekerjaan, beberapa kebingungan, beberapa liburan, dan beberapa sama seperti saya: magang. Sampai Agustus. Atau September.

Sebagian di Jakarta, sebagian di Bandung, sebagian di Bali, sebagian saya tak tahu lagi.

Laptop saya baru saja sembuh. Dua minggu makan waktu untuk sembuh. Selama itu, Danu yang baik hati meminjamkan saya komputer dia. Terima kasih, bro. Studio dan newsletter selesai juga pakai Rambo.

Saya ketik ini di laptop, dengan keyboard tambahan karena enak sekali mengetik di full-size keyboard. Lagu tulus diputar sebagai background. Saya tidak terlalu suka Tulus, tapi suaranya bagus. Karena ketika dua minggu lalu saya bosan, saya ke Tarra dan secara random beli CD albumnya, Gajah. Saya kagum, tapi tidak terkesima. Saya putar CDnya supaya terpakai saja, sayang sudah dibeli. Oh, lagu Gajah itu memang bagus.

Saya kepikiran beli macam-macam. Tapi budget tentu saja harus dibatasi. Eh, barusan saya keliling internet dan nemu artikel, ada tulisan begini: Don’t spend money on things you don’t need because you won’t have money for the things that you do need. Benar juga kurang lebih. Oke, saya tidak jadi beli macam-macam. Listnya saya buang.

Hari senin saya mulai magang. Di Wander. Tapi Selasa dan Rabu saya tidak masuk. Selasa kesiangan dan Rabu saya tidak enak badan. Tidak enak sekali, beneran. Sampai sekarang. Badan ngilu sampai saya tidak bisa tidur. Makanya tulisan ini hadir dini hari.

Dua tahun yang lalu, seorang teman baik, Miss Zulianti, bilang bahwa dia percaya saya akan jadi ‘seseorang’ di kemudian hari. Tentu saja saya amini. Tapi belakangan, saya tidak merasa begitu. Pesimis? Bisa jadi. Tapi bukan, bukan itu. Saya merasa ada sesuatu yang lebih daripada sekedar rasa pesimis. Saya merasa paham diri sendiri. Segala kekurangan saya, usaha saya untuk memperbaikinya, dan kegagalan saya karenanya dan karena gagal memperbaikinya.

Tentu saja, perasaan ini sungguh buruk. Saya menyadari hal itu. Captain Haddock di Tintin The Movie bilang, orang lain boleh bilang kita (akan) gagal, tapi jangan pernah bilang itu ke diri kita sendiri. Tapi premonition is a premonition. It is so superstitious that Einstein couldn’t even explain.

Teman baik yang lain, Poska, pernah bilang sesuatu tentang quarter life crisis. Saya juga pernah menemukan artikel itu di forum. Barangkali, saya tengah mengalaminya. Saya juga tahu dan sedang berusaha menangkis idea-idea buruk seperti itu menancap di pikiran saya. Saya mengerti. Saya cuma ingin bilang saja.

Saya habis jalan-jalan di Medium. Dan menjadi salah satu pembaca yang sok-sok terinspirasi, padahal di kemudian hari setelah termotivasi, saya tidak akan melakukan apa-apa. Ini terjadi berulang-ulang sampai saya hapal sekali kebiasaan buruk saya. Kadang, kamu boleh benci dirimu sendiri.

Kemarin subuh, saya ke masjid dan shalat berjamaah. Enak sekali. Seperti subuh-subuh lainnya saat saya ke masjid untuk shalat berjamaah juga.

Panjang juga tulisan ini.



Almazian Pop Symphony - Seven Nation Army



Who are you?

My name is Budapest.

I am happy. Along with the grass and sweats. Of breeze that goes through your little fingers. And I’ll be always by your dream. Never the real world.

My name is Kyoto.

I am your reality. Tell me what you’re feeling. You can never see the future, but we did get along well.

My name is Michigan.

I feel mesmerized. You don’t wanna know of what happened to me. But memories lies beyond your will.

My name is Berlin.

I am nowhere. Turn off the lights, and you’ll see.



tumbr1:

99percentinvisible:

If we had Dutch-style intersections, we’d ride our bikes everywhere, too

Urban planner Nick Falbo wants U.S. engineers to borrow a trick from the Dutch: Keep the bike lanes on the curb side of parked cars, and then add an island in front of the parking lane in the intersection so that turning cars are forced to give cyclists a little more space.

Just watch what he means. 



Fascinated #1: Japan

image

I am fascinated by Japan.

Sejak jaman orang-orang Jepang exist di bumi, rasanya mereka sudah ditakdirkan sebagai bangsa yang berbudi luhur tinggi.

Tindak kriminal di Jepang begitu rendah bukan karena keamanan yang baik, tapi karena orang-orang di sana tahu diri dan berpendidikan, memiliki moral dan tahu malu, bersifat ksatria dan nggak terpikir sama sekali untuk mereka ngambil barang orang lain seenaknya.

Disiplin di Jepang begitu dahsyat bukan karena aturan ada dan hukuman yang disangsikan, tapi karena mereka tahu dengan disiplinlah bangsa mereka akan maju bersama. Orang-orang Jepang, sekosong apapun jalanan, nggak akan nyebrang sampai lampu hijau bagi penyebrang jalan menyala.

Orang-orang Jepang hidup dan mati dengan filosofi hidup yang jauh lebih dalam dibanding bangsa lain. Mereka berlatih pedang agar hati menjadi tajam, mereka membuat kaligrafi agar disiplin tertulis di hidup mereka, mereka punya upacara minum teh agar aliran darah di tubuh mereka turut mengalirkan energi, mereka melakukan seppuku setelah melakukan perbuatan malu agar anak cucunya tahu bahwa ksatria bukan ada di dalam fisik, melainkan jiwa yang tidak mati setelah perut terbelah.

Di eskalator, mereka akan berada di sebelah kiri dan bagian kanan dikosongkan untuk orang yang lebih terburu-buru. Dimanapun, akan terlihat orang mengantri dengan baik.

Everybody bows.

Masalah publik selesai dan tertangani dengan cepat. Semua orang berdedikasi atas pekerjaannya. Semua orang menghormati dengan luar biasa akan pekerjaan orang lain.

Dengan segala hormat, bangsa saya juga adalah bangsa yang besar. Bangsa Indonesia. Kami punya filosofi sendiri, yang luar biasa. Tapi sungguh dalam urusan individu, harga diri, dan perilaku, saya berpendapat bahwa bangsa Indonesia tidak punya harga diri yang terwaris sebaik orang-orang Jepang.

Dengan segala hormat, saya tidak malu. It’s okay, we have ourselves a different path with the Japanese. Yang saya sayangkan adalah kenyataan bahwa bangsa ini tidak punya filosofi hidup yang kuat dan rasa malu sejak sangat dasar. Kita tidak pernah punya hati setajam dan seanggun mereka.

Let me remind you, it’s just that,

I am fascinated by Japan. By their way of life.



coffeentrees:

Congrats to all the folks behind the fantastic @afilmaboutcoffee that premiered this weekend in Seattle! Here @lastnamethomas is homebrewing up some of our Rwanda Huye Mountain featured in the film. #afilmaboutcoffee by stumptowncoffee

coffeentrees:

Congrats to all the folks behind the fantastic @afilmaboutcoffee that premiered this weekend in Seattle! Here @lastnamethomas is homebrewing up some of our Rwanda Huye Mountain featured in the film. #afilmaboutcoffee by stumptowncoffee

(via coffeenotes)



The SNK809 K2 Automatic.

The SNK809 K2 Automatic.



Our life: The Sand Mandala.



Quick Post - Things

Habis maghrib, dan suddenly I feel like writing. So here it goes.

I know how obvious it is but still I want to tell. Lately, I have myself interested in watches. Designer watches, obviously, not luxury watches.

I think it’s bad.

Saya khawatir saya akan jadi kolektor. Di agama saya, banyak ulasan tentang bagaimana mengoleksi barang itu nggak dianjurkan. Dan itu logis sekali. Karena barang koleksi kita nggak ngasih manfaat apa-apa. Khususnya bagi orang lain. Barang-barang koleksi ini cuma bakal jadi bagian dari harta yang menumpuk.

Selama ini, saya selalu berusaha untuk hanya punya satu barang, dan nggak menggantinya kecuali barangnya rusak atau barang tersebut udah nggak mampu lagi mengakomodir kebutuhan saya.

Karenanya juga, Ibu saya suka marah karena celana saya kelihatan butut. Lalu dia menyuruh saya untuk beli yang baru. Atau kakak saya yang menyuruh saya beli smartphone agar dia bisa mem-bbm saya. Saya sendiri nggak merasa itu sesuatu yang necessary. Celana saya belum bolong, handphone saya ketinggalan jaman tapi saya nggak merasa kekurangan. Nggak ada alasan buat saya beli yang baru.

Biarpun klise, atau cuma terdengar seperti ngeles, saya harus bilang: ini bukan masalah uang. Saya cuma khawatir suatu hari saya akan terbiasa menjadi seseorang yang tamak. Bahkan Umar Ibn Khatab yang nggak miskin itu cuma punya dua set baju, untuk musim panas dan musim dingin.

Tapi tentu saja, sebagai manusia normal, saya juga punya rasa kepingin. Jadi saya kira kalau saya bisa menemukan alasan yang tepat, punya beberapa barang nggak masalah. Saya nemu beberapa alasan yang bagus. Yang pertama, masalah jenis. Misalnya saya punya beberapa sepatu, tapi nggak ada yang jenisnya sama, sebab sangat nggak sopan kalo saya ke kawinan teman pakai Converse.

Alasan yang lainnya, adalah hadiah. I appreciate gifts. Semua pemberian orang, seperti apapun bentuknya, selalu saya usahain simpan dengan baik. Sebab barang yang diberi buat saya adalah memorabilia atas kebaikan hati si pemberi. Berangkat dari sini, saya akhirnya menemukan cara untuk beli barang yang saya suka: make it as a gift for yourself.

Dan jelas gift ada setelah achievement. Saya harus mendapat achievement sebelum membeli gift untuk diri sendiri. Buat saya, ini sistem yang baik, karena kurang lebih bisa bikin saya jadi termotivasi juga untuk mengejar achievement.

Time to go.



The Smile Solar

The Smile Solar



The Weekender

The Weekender